Minggu, 02 April 2017

Motivasi


     Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energy, terarah.dan bertahan lama.
Perspektif tentang Motivasi
  •  Perspektif Behavioral.

Perspektif Behavioral yaitu menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif yaitu peristiwa atau stimuli positif atau negative yang dapat memotivasi perilaku murid.
Pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat. Contoh  Insentif yang dipakai guru di kelas yaitu nilai yang baik, pujian, tanda bintang, atau memberikan sertifikat prestasi dll.
  •             Perspektif Humanistis

Perspektif humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan, untuk memilih nasib mereka sendiri. Perspektif ini berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow. Hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan individu harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut :

  1.           Fisiologis : lapar, haus, tidur
  2.           Keamanan (Safety) : bertahan hidup, seperti perlindungan dari perang dan kejahatan.
  3.           Cinta dan rasa memiliki : keamanan (security), kasih saying, dan perhatian dari orang lain
  4.           Harga diri : menghargai diri sendiri
  5.           Aktualisasi diri : realisasi potensi diri
Aktualisasi adalah motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia.menurut Maslow, aktualisasi diri dimungkinkan hanya stetlah kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi.

  •            Perspektif Kognitif

Menurut perspketif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka.Perspektif kognitif juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan, dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan.
Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R.W.White (1959) yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi yaitu ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien. White mengatakan bahwa orang melakukan hal-hal tersebut bukan karena kebutuhan biologis, tetapi karena orang punya motivasi internal untuk berinteraksi dengan lingkungan secara efektif.
  •           Perspektif Sosial

Keburuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan, dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.
Motivasi untuk Meraih Sesuatu
  •          Motivasi Ekstrinsik : merupakan melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal saperti imbalan dan hukuman.Contohnya : murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik
  •          Motivasi Intrinsik : merupakan motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).Contohnya : murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu.

Determinasi Diri dan Pilihan Pesonal
            Salah satu pandangan tentang motivasi intrinsik menekankan pada determinasi diri, dalam pandangan ini murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan mereka sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal.
 Contohnya, murid yang diajak untuk mengorganisir sendiri eksperimen mereka akan lebih perhatian dan berminat terhadap praktik laboratorium keimbang murid yang diharuskan mengikuti instruksi dan aturan guru yang ketat.
Pengalaman Optimal
            Mihaly Csikszentmihalyi juga mengembangkan ide yang relevan utuk memahami motivasi instrinsik. Csikszentmihalyi menggunaka istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman optimal dalam hidup. Dia menemukan bahwa pengalaman optimal itu kebanyakan terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi tidak juga terlalu mudah.

Sabtu, 01 April 2017

Pembelajaran (Learning)




Pembelajaran adalah perubahan perilaku, pengetahuan, keterampilan berfikir yang relative permanen yang dibentuk melalui pengalaman. Tidak semua perubahan itu diperoleh dari pembelajaran, seperti perubahan yang disebabkan oleh obat-obatan, kelelahan, luka, penuaan.
Pendekatan untuk Pembelajaran
            Terdapat pandangan tentang pendekatan untuk pembelajaran yaitu pendekatan kognitif dan pendekatan behavioral.
  • ·         Pendekatan Behavioral

Behaviorisme merupakan padangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Sementara Proses mental menurut Psikolog yaitu sebagai pikiran, perasaan, dan motif secara langsung, semua itu adalah sesuatu yang nyata.

  •     .   Pengkondisian Klasik
Merupakan tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons yang sama. Untuk memahami teori pengkondisian klasik Pavlov kita harus memahami hal-hal berikut:
-          Unconditioned Stimulus (US) :  sebuah stimuli yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu.
-          Unconditioned Response (UR) : respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US
-          Conditioned Stimulus (CS) : stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan dengan US.
-          Conditioned Response (CR) : respons yang dipelajari yakni respons terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS.


  •         Pengkondisian Operan
Merupakan pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.Pencetus dari pengkondisian operan adalah B.F.Skinner yang pandangannya didasarkan pada pandangan E.L.Thorndike.
Hukum Efek Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti oleh hasil negative akan diperlemah.
-          Penguatan (Reinforcement) : konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Terdapat 2 bentuk penguatan yaitu:
1.      Penguatan Positif : freukensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding) seperti dalam contoh dimana komentar positif guru meningkatkan perilaku menulis murid.
2.      Penguatan Negatif : frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Misalnya seorang ayah memarahi putranya agar mau mengerjakan PR-nya
-          Hukuman (Punishment) : konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Misalnya jika kita merengut terhadap perilaku murid yang suka bicara dikelas kemudian perilaku bicara tersebut menurun, maka muka kita yang merengut tersebut merupakan hukuman bagi tindakan si murid.
Dalam pengkondisian operan, generalisasi berarti memberikan respons yang sama terhadap stimuli yang sama. Diskriminasi dalam pengkondisian operan yaitu pembedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan, sedangkan pelenyapan (extinction) yaitu terjadi ketika respons penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnya menurun.
  • ·         Pendekatan Kognitif

Teori Kognitif sosial menyatakan bahwa factor sosial dan kognitif dan juga factor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Albert Bandura merupakan salah satu pendiri utama teori kognitif sosial. Bandura mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga factor utama yaitu : perilaku, person/kognitif, dan lingkungan.
Faktor person/kognitif yang ditekankan Bandura yaitu Self-efficacy yaitu keyakinan bahwa seseorang bias menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif.
Model Pembelajaran Observasional Bandura
1.      Atensi (Perhatian) : sebelum murid meniru tindakan, mereka harus memperhatikan apa yang dilakukan atau apa yang dikatakan model.
2.      Retensi : Untuk mereproduksi tindakan model, murid harus mengodekan informasi dan menyimpannya dalam ingatan(memori) sehingga informasi itu bias diambil kembali.
3.      Produksi :Anak mungkin memperhatikan model dan mengingat apa yang mereka lihat, tetapi karena keterbatasan dalam kemampuan geraknya, mereka tidak bias mereproduksi perilaku model.
4.      Motivasi : Sering kali anak memperhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan model, menyimpan informasi dalam memori, dan memiliki kemampuan gerak untuk meniru tindakan model, namun tidak termotivasi untuk melakukannya.

Jumat, 24 Maret 2017

Psikologi Pendidikan dan Ruang Lingkupnya


Psikologi pendidikan  adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
-Pengajaran adalah proses pendidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah belajar.
-Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik sengan pendidik dan sumber belajar,pada suatu lingkungan belajar.
Latar Belakang Historis
          Bidang Psikologi Pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad ke-20.Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah Psikologi Pendidikan, yaitu:
·         William James

Hasil gambar untuk gambar william james    James mengatakan  bahwa eksperimen psikologi di laboratorium sering kali tidak bisa menjelaskan kepada kita  bagaimana cara mengajar anak secara efektif.  Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
Hasil gambar untuk gambar jOHN dEWEY·         Jhon Dewey
Tokoh kedua yang berperan besar dalam membentuk psikologi pendidikan yaitu Jhon Dewey (1859-1952).Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis. Dewey membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di AS, Universitas Chicago, pada tahun 1894.Kemudian di Columbia University, dia melanjutkan karya inovatifnya tersebut.Kita bnayak mendapat ide penting dari Jhon Dewey.
Pertama :Dari Dewey kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner). Sebelum Dewey mengemukakan pandangan ini , ada keyakinan bahwa anak-anak mestinya duduk diam di kursi mereka dan mendengarkan pelajaran secara pasif dan sopan.Sebaliknya Dewey percaya bahwa anak-anak akan belajar dengan baik jika mereka aktif.
Kedua : Dari Dewey kita mendapatkan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemapuan anak untuk beradaptasi  dengan linkungannya, Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak hanya mendapatkan pembelajaran akademik saja, tetapi juga harus diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia diluar sekolah.Dia secara khusus berpendapat bahwa anak-anak harus belajar agar mampu memecahkan masalah secara reflektif.
Ketiga :  Dri Dewey kita mendapatkan  gagasan bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya.Cita-cita demokratis ini pada masa pertengahan abad ke-19 belum muncul, sebab saat itu pendidikan hanya diberikan pada sebagian anak kecil,terutama anak keluarga kaya.Dewey adalah salah seorang psikolog yang sangat berpengaruh-seorang pendidik yang mendukung pendidikan yang layak bagi semua anak, lelaki maupun perempuan, dari semua lapisan sosial-ekonomi dan etnis.
Hasil gambar untuk gambar e.l. thorndike·         E.L.Thorndike
                   Perintis ketiga adalah E.L.Thorndike (1874-1949), yang member banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran dan perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah.Thorndike berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak.Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah.Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran .
Pengetahuan dan Keahlian Profesional

  1.          Penugasan Materi Pembelajaran : Guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel,dan memahami materi.Tentu saja, pengetahuan subjek materi bukan hanya mencakup fakta, istilah, dan konsep umum.
  2.         Strategi Pengajaran : Pinsip Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman, guru bukan sekedar member informasi ke pikiran anak tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung dan berfikir secara kritis.
  3.            Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Instruksional : Guru yang efektif tidak sekadar mengajar di kelas, entah itu dia menggunakan persfektif tradisional atau konstruktivis. Mereka harus menetukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
  4.            Keahlian Manajemen Kelas : Guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.
  5.         Keahlian Motivasional : Motivasi paling baik didorong dengan memberi kesempatan murid untuk belajar didunia nyata, agar setiap murid berkesempatan menemui sesuatu yang baru dan sulit.     
  6.         Keahlian Komunikasi : Yang amat diperlukan dalam mengajar adalah keahlian dalam berbicara, mendengar,mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal dari murid dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif.
  7.            Bekerja Secara Efektif dengan Murid dari Latar Belakang Kultural Berlainan : Guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak-anak dengan latar cultural yang berbeda, dan sensitive terhadap kebutuhan mereka.
  8.         Keahlian Teknologi : Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan computer ke dalam proses belajar di kelas.

Minggu, 19 Maret 2017

Implikasi Tahap Perkembangan dalam Pendidikan


A.   Masa Kanak-Kanak Awal (Prasekolah): TK dan Playgroup (2-6 tahun)

  • ·        Fase Berpikir Egosentris
  • ·        Masa Bermain
  • ·        Masa Meniru
  • ·        Masa Eksplorasi, dengan meningkatnya kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan karena bertambah besarnya kordinasi dan pengendalian motorik yang disertai dengan meningkatnya kemampuan bertanya dengan menggunakan kata-kata yang dimengerti orang lain.
  • ·        Tahap praoperasional pada tahapan ini simbol-simbol anak meningkat kompleks, namun proses penalaran dan pemikirannya masih mempunyai ciri-ciri keterbatasan. Serangkaian pertanyaan yang diajukan anak, menunjukkan perkembangan mentalnya dan mencerminkan rasa keingintahuan intelektual, serta menandai munculnya minat anak-anak dalam penalaran.
  • ·       Tahap prakonvensional:
  •       Tahap 1: Orientasi Hukuman
  •       Tahap 2: Orientasi Ganjaran
  
 IMPLIKASI MASA PRASEKOLAH DALAM PENDIDIKAN

  •      Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. Melalui observasi (pengamatan) anak dapat melihat tingkah laku, bentuk fisik dan pakaian yang berbeda antara jenis kelamin yang satu dengan yang lainnya.
  •      Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. Keadaan jasmani anak sangat labil apabila dibandingkan dengan orang dewasa, anak cepat sekali merasakan perubahan suhu sehingga temperatur badannya mudah berubah.
  •      Membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial, dan alam. Pada mulanya dunia ini bagi anak merupakan suatu keadaan yang kompleks dan membingungkan. Lama kelamaan anak dapat mengamati benda-benda atau orang-orang di sekitarnya.
  •      Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua. saudara, dan orang lain. Anak mengadakan hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya menggunakan berbagai cara, yaitu isyarat, menirukan dan menggunakan bahasa.
  •      Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk, yang berarti mengembangkan kata hati. Anak kecil dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kenikmatan dianggapnya baik, sedangkan penderitaan dianggapnya buruk (hedonisme adalah aliran yang menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya bertujuan mencari kenikmatan dan kebahagiaan).


B.   Masa Kanak-kanak Akhir : SD (6-11 tahun)
  • ·        Sejak usia 6 tahun sampai matang secara seksual
  • ·        Tahap Kognitif : operasional-konkrit

-         Mampu berpikir logis tentang objek dan kejadian
-         Mampu mengklasifikasikan objek
-         Mampu mengkonversi jumlah dan berat
  • ·        Tingkat perkembangan moral : Konvensional

-         Tahap 3 : orientasi “good boy/ good girl”
-         Tahap 4 : orientasi otoritas
  • ·        Menurut Erikson : Tahap industry vs inferiority


Implikasi Tahap Ini Terhadap Pendidikan
  • ·        Anak mampu mengklasifikasikan dan mengurutkan suatu benda berdasarkan ciri – ciri suatu objek. Mengkelompokan benda – benda yang sama kedalam dua atau lebih kelompok yang berbeda. Misalnya mengelompokan pensilnya berdasarkan warna, dan tingginya.
  • ·        Anak suka dipuji dan mendapat pengakuan, sebaiknya guru atau orangtua memberikan pujian saat anak melakukan hal yang positif misalnya jika anak mendapat nilai yang bagus, sebaiknya guru memberikan pujian seperti mengatakan “anak pintar” agar anak terus mengulangi hal yang positif tersebut.
  • ·        Anak sudah mampu memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
  • ·        Perkembangan motorik halus anak sudah berkembang yaitu perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu. Seperti kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.
  • ·        Kemampuan bahasa anak sudah mulai berkembang dimana anak mulai dapat belajar membaca. Pada masa ini perubahan terjadi dalam hal anak berfikir tentang kata-kata, jadi anak dapat mengembangkan bahasa nya dengan cara membaca. 
  • ·        Anak sudah mulai matang secara intelektual maksudnya, anak telah sanggup menerima pelajaran secara sistematis, terus-menerus, dapat menyimpannya dan nantinya dapat memproduksi pelajaran tersebut. Misalnya anak sudah mampu belajar mengitung, yaitu dengan guru menggambarkan dengan objek atau gambar yang membuat anak lebih tertarik dan mudah mengingatnya.
  • ·        Pada masa ini anak mempunyai ide yang lebih baik tentang jarak dari satu tempat ke tempat lain, lama waktu tempuhnya, dan dapat mengingat rute dan tanda-tanda jalan, misalnya anak dapat dipercayakan menemukan jalan pulang atau pergi dari rumah ke sekolah.

C.   Masa Remaja Akhir (11/12 sampai 18/24 tahun): Tahap SMP dan Tahap SMA

             1.     Tahap SMP

  • Menurut Piaget :
                     Berada pada Tahap Formal Operational
             (berkisar antara 11-15 tahun)

  • Menurut Erik Erikson :

                                Psikososial Tahap 5
        ( Identitas vs kekacauan identitas )
                          
  • Menurut Kohlberg :

·                           Tahapan Pos Konvensional

Implikasi Pendidikan:

  • ·        Remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak
  • ·         Mencoba mengerjakan sebuah tugas dengan lebih logis
  • ·        Pribadi yang lebih idealistisdalam melaksanakan sesuatu
  • ·        Kemampuan berpikir secara abstrak dan hipotesis, sehingga ia mampu memikirkan  sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak( imajinasi).
  • ·        Mereka sudah mampu berpikir secara sistematk, mampu berpikir dalam kerangka apa yang mungkin terjadi, bukan hanya apa yang terjadi.
  • ·        Kemampuan menarik generalisasi dan inferensasi dari berbagai kategori objek yang beragam. Selain itu, ada peningkatan fungsi intelektual, kapabilitas memori dalam bahasa dan perkembangan konseptual. Dengan kata lain, bahasa merupakan salah satu alat vital untuk kegiatan kognitif.


 Cara meningkatkan potensi belajar pada masa sekolah menegah atas;

  • Membuat pembelajaran relevan dan mengaktifkan pengetahuan sebelumnya,   penggunaan organisator awal (analogi, elaborasi) dengan siswa dapat membantu               mengaktifkan pengetahuan mereka taerdahulu.
  • Mengorganisasikan informasi.Materi yang diorganisasikan dengan baik, akan lebih mudah dipelajari dan diingat     daripada materi yang kurang terorganisir. Contohnya, kelompok masalah yang spesifik dikelompokan dibawah masalah yang lebih umum.
  • Menggunakan tekhnik bertanya.Penyajian pertanyaan sebelum pengenalan bahan pengajaran dapat membantu siswa mempelajari bahan yag terkait dengan pengajaran tersebut.
  • Menggunakan model konseptual.Salah saatu contoh dari model konseptual adalah diagram yang memperlihatkan unsur-unsur informasi atau pengetahuan.


             2.     Tahapan SMA

  • Perkembangan kognitif ( Jean Piaget)Berada pada Tahap Formal Operational (berkisarantara 11-15 tahun dan 18-24      tahun).yaitu,remaja mampu menghasilkan cara berpikir baru yang abstrak,formal dan logis.

  •  Perkembangan psikososial( Erik Erikson) :
    Psikososial Tahap 5( Identitas vs kekacauan identitas ).Pada tahap ini seseorang berusaha untuk menentukan apa yang unik tentang diri mereka ,siapa diri mereka,apa kekuatan mereka dan apa peran mereka terhadap lingkungan mereka

  •  Perkembangan  moral (Kohlberg) : Tahapan Pos Konvensional.yaitu seseorang menggunakan prinsip-prinsip moral yang dipandang lebih luas dibandingkan dengan masyarakat mana pun.
  • Perkembangan Fisik:
      Mengarah ke bentuk orang dewasa(tinggi dan berat badan )
  •  Perkembangan Heteroseksual:
            Tertarik pada lawan jenis(hormon seksual aktif)
  •  Perkembangan  Emosional
            Emosi tidak stabil,berubah-ubah dan cenderung meledak –ledak.



Implikasi  Tahapan  Perkembangan ke dalam Pendidikan

  • ·        Remaja (anak SMA) berpikir dengan cara yang lebih abstrak, formal dan logis.

Implikasinya: Memberikan sebuah problem tertentu kepada seorang remaja dengan tujuan agar sang remaja dapat mengatasi ,menyelesaikan ,mengevaluasi serta mengambil pelajaran dari problem tersebut dengan kemampuan berpikir abstrak dan logis nya.

  • ·        Remaja mencari identitas sejatinya

Implikasinya : Memberikan sebuah motivsasi kepada para remaja .seperti,bakat apa yang ada pada dirinya?apa yang ingin dicapai setelah lulus SMA?ingin menjadi apa di masa depan? dsb.agar sang remaja dapat mengetahui potensi apa yang ada pada diri mereka dan dapat mengembangkannya.

  • ·        Remaja yang menggunakan prinsip-prinsip moral

Implikasinya:  Megadakan kegiatan bakti sosial ataupu sosialisasi,dengan tujuan agar dapat membentuk tingkat kepedulian remaja terhadap dirinya sendiri serta hubungan lingkungan sosialnya.dan juga memandang penting kesejahteraan orang lain sebagai cerminan tingkat moralitas tinggi.

  • ·        Perkembangan heteroseksual

Implikasinya: Memberikan sebuah wawasan kepada remaja tentang bagaimana cara kita merespon seksual manusia(lawan jenis) menurut biologisnya, kemudian dasar biologis dari perilaku seksual,sampai dengan penyimpangan –penyimpangan seksual.

  • ·        Perkembangan emosional

Implikasinya: Para orang tua memberikan empati dan simpati kepada anak dan membantu mereka dalam mengambil sikap dan memahami perasaan oarang lain an juga membantu anak dalam mengembangkan kemampuannya dalam mengatasi masalah.




 
itsaboutcrochet Blogger Template by Ipietoon Blogger Template